Kesehatan reproduksi remaja

 

Kesehatan reproduksi remaja – Masa remaja adalah merupakan masa peralihan baik secara fisik, psikis maupun sosial dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Remaja adalah aset sumber daya manusia yang merupakan tulang punggung penerus generasi di masa mendatang. Bila dilihat dari komposisi penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin, jumlah remaja menempati posisi yang lebih besar dibanding dengan komposisi umur lainnya.

Kesehatan reproduksi remaja Kesehatan reproduksi remajaBesarnya jumlah penduduk usia remaja ini adalah merupakan peluang dan bukan menjadi masalah bagi pemerintah. Pada tahun 1974, WHO memberikan defensi tentang remaja yang bersifat konseptual. Defenisi ini berdasarkan 3 kriteria biologik, psikologik dan sosial ekonomi. Dari segi umur WHO membagi menjadi remaja awal (10 – 14 tahun) dan remaja akhir (15-20 tahun). PBB menetapkan usia 15-24 tahun sebagai usia pemuda (youth) dalam rengka menetapkan tahun 1985 sebagai tahun pemuda internasional.

Di Indonesia, batasan remaja mendekati batasan PBB tentang pemuda kurun usia 14-24 tahun yang dikemukakan dalam Sensus Penduduk 2010. Menurut sensus ini, jumlah remaja Indonesia adalah 147.338.075 jiwa atau 18,5% dari seluruh penduduk Indonesia. Pedoman umum masyarakat Indonesia untuk menentukan batasan usia remaja yaitu 11 – 24 tahun dan belum menikah.

Adapun J.J. Rosseau membagi perkembangan jiwa manusia menurut perkembangan perasaannya, yang membaginya menjadi 4 tahap yaitu:

  1. Umur 0-4 atau 5 tahun: masa kanak- kanan (infancy).
  2. Umur 5 –12 tahun: masa bandel (savage stage).
  3. Umur 12 –15 tahun: bangkitnya akal (rasio), nalar (reason) dan kesadaran diri (self consciousness).
  4. Umur 15-20 tahun: masa kesempurnaan remaja (adolescence proper) dan merupakan puncak perkembangan emosi.

Perkembangan Fisik pada Remaja

Pada masa remaja seseorang mengalami pertumbuhan fisik yang lebih cepat dibandingkan dengan masa sebelumnya. Ini nampak pada organ seksualnya, dimana biologik sampai pada kesiapan untuk melanjutkan keturunan. Ciri sekunder individu dewasa adalah pada pria tampak tumbuh kumis, jenggot dan rembut sekitar alat kelamin dan ketiak. Rambut yang tumbuh relatif lebih kasar. Suara menjadi lebih besar, dada melebar dan berbentuk segitiga, serta kulit relatif lebih kasar. Dan pada wanita tampak rambut mulai tumbuh di sekitar alat kelamin dan ketiak, payudara dan panggul mulai membesar, dan kulit relatif lebih halus.

Sedangkan organ kelamin juga mengalami perubahan ke arah pematangan yaitu:

  • Pada pria, sejak usia ini testis akan menghasilkan sperma yang tersimpan dalam skrotum. Kelenjar prostat menghasilkan cairan semen, dan penis dapat digunakan untuk bersenggama dalam perkawinan. Seorang pria dapat menghasilkan puluhan sampai jutaan sperma sekali ejakulasi dan mengalami mimpi basah, dimana sperma keluar dengan sendirinya secara alamiah.
  • Pada wanita, kedua indung telur (ovarium) akan menghasilkan sel telur (ovum). Hormon kelamin wanita mempersiapkan uterus (rahim) untuk menerima hasil konsepsi bila ovum dibuahi oleh sperma, juga mempersiapkan vagina sebagai penerima penis saat senggama. Sejak saat ini wanita akan mengalami ovulasi dan menstruasi. Pada masa menjelang menstruasi pertama (menarch) remaja putri sangatlah sensitif. Mereka juga seringkali mengalami masa prementruasi syndrome (PMS) yang sangat berat. Silakan baca juga cerita tentang diet yang disarankan untuk PMS disini.

Ovulasi adalah proses keluarnya ovum dari ovarium dan jika tidak dibuahi, maka ovum akan mati dan terjadilah menstruasi. Menstruasi adalah peristiwa alamiah keluarnya darah dari vagina yang berasal dari uterus akibat lepasnya endometrium sebagai akibat dari ovum yang tidak dibuahi.

Perkembangan Psikosial pada Remaja

Kesadaran akan bentuk fisik yang bukan lagi anak-akan menjadikan remaja sadar meninggalkan tingkah laku anakanaknya dan mengikuti norma serta aturan yang berlaku. Menurut Havigrust aspek psikologis yang menyertainya yaitu:

  1. Menerima kenyataan (realitas) jasmani
  2. Mencapai hubungan sosial yanglebih matang dengan teman sebaya.
  3. Menjalankan peran-peran sosial menurut jenis kelamin sesuaikan dengan norma.
  4. Mencapai kebebasan emosional (tidak tergantung) pada orang tua atau orang dewasa lain.
  5. Mengembangkan kecakapan intelektual serta konsep untuk bermasyarakat.
  6. Memilih dan mempersiapkan diri untuk suatu pekerjaan atau jabatan.
  7. Mencapai kebebasan ekonomi, merasa mampu hidup dengan nafkah sendiri.
  8. Mempersiapkan diri untuk melakukan perkawinan.

Perilaku Seks Remaja yang Berisiko

Perilaku seks remaja yang tidak sehat akan menimbulkan beberapa manifestasi khususnya di kalangan remaja sendiri. Masalah yang berkaitan dengan kehamilan yang tidak diinginkan yang meliputi:

  • Pembunuhan bayi karena faktor malu.
  • Pengguguran kandungan, terutama yang dilakukan secara tidak aman.
  • Dampak kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja putri baik terhadap masalah gizi dan kesehatan reproduksi lainnya.
  • Dampak sosial ekonomi dari kehamilan yang tidak diinginkan.

Selain masalah di atas, masalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual yang meliputi:

  • Masalah penyakit menular seksual yang lama, seperti siphilis dan gonorheae.
  • Masalah penyakit menular seksual yang relatif baru seperti chlamidya dan herpes.
  • Masalah HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome).
  • Dampak sosial dan ekonomi dari penyakit menular seksual.

Menurut Ayke SK, Lembaga Demogrfi UI, Tahun 2002-2003 yang meneliti tentang kesehatan reproduksi, jumlah remaja yang berusia 15-24 tahun dan mencakup 20% penduduk Indonesia. Dari waktu ke waktu, mobilitas remaja Indonesia yang meningkat pesat, arus informasi yang sangat kuat, dan semakin bertambahnya remaja yang berperilaku berisiko ikut meningkatkan kasus penularan HIV/AIDS. Menurut laporan Sekretaris Jenderal pada sesi khusus majelis umum PBB mengenai HIV/AIDS bahwa tiap hari ada 6000 remaja yang terinfeksi HIV.

Sebagian besar dari mereka tidak memiliki akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai, informasi yang benar, bahkan keterampilan hidup. Berbagai upaya pencegahan penyebaran HIV/AIDS dan infeksi seksual menular lainnya seringkali tidak tersedia bagi para remaja. Pelayanan kesehatan reproduksi pada umumnya hanya membatasi bagi orang dewasa yang sudah menikah dan tidak menyediakan sarana khusus bagi remaja yang hadir tampa wali.

Bila tersedia pelayanan kesehatan, banyak faktor yang membuat remaja tidak menggunakannya termasuk kurangnya pelayanan yang bersifat pribadi serta menjaga kerahasiaan, petugas yang kurang peka, lingkungan yang tidak aman dan ketidakmampuan membayar. Karena jumlah orang yang terinfeksi HIV meningkat dengan pesat di kalangan usia 15-24 tahun, maka perlu dilakukan upaya-upaya khusus bagi kelompok tersebut.

Agar menurunkan dampak secara keseluruhan, upaya dalam mendidik para kaum muda menjadi sangat penting karena pada intinya, memberdayakan generasi muda untuk melindungi diri mereka adalah langkah pertama untuk mengendalikan HIV/AIDS. Salah satu upaya konkrit adalah kesadaran untuk berperilaku seks yang sehat dalam menjaga kesehatan reproduksi mereka sendiri.

Pengertian Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD)

Istilah kehamilan yang tidak diinginkan atau KTD mengandung arti sebagai kehamilan yang terjadi saat salah satu atau kedua belah pihak dari pasangan tidak menginginkan anak sama sekali atau kehamilan yang sebenarnya diinginkan tapi tidak pada saat itu, dimana kehamilan terjadi lebih cepat dari yang telah direncanakan. Banyak yang berpikir bahwa KTD hanya terjadi pada remaja yaa.. Tapi ternyata tidak juga, karena pada pasangan yang telah menikahpun KTD masih mungkin terjadi, oleh karena kehamilan yang terjadi memang sedang tidak diinginkan.

Adapun KTD terjadi akibat telah dilakukannya hubungan seksual, baik yang dilakukan secara sengaja ataupun tanpa disengaja. Beberapa kejadian KTD disebabkan oleh karena tindakan perkosaan ataupun kekerasan seksual. KTD juga dapat terjadi karena kegagalan dalam pemakaian alat kontrasepsi, bayi yang trekandung ternyata menderita cacat majemuk yang berat, kondisi kesehatan ibu yang tidak memungkinkan untuk menjalani kehamilan, karena adanya tuntutan karir, kehamilan terjadi karena incest (akibat hubungan antar keluarga), serta oleh karena kehamilan terjadi akibat dilakukan hubungan seksual pra nikah, sehingga dirasa masih belum saatnya untuk terjadi, yang didukung pula oleh karena rendahnya pengetahuan akan kesehatan reproduksi dan seksual.

Artinya secara umum pada remaja, kehamilan tidak diinginkan terjadi karena remaja belum memiliki kesiapan untuk menjalani kehamilan, baik secara psikis, sosial, fisik, ataupun secara ekonomi. Hubungan seks pranikah yang dilakukan remaja cenderung berbanding lurus dengan angka kejadian KTD pada remaja.

Mengacu pada pendidikan anak dalam Islam, menurut Sahabat Ali bin Abi Thalib ra, dapat dibagi menjadi 3 tahapan/ penggolongan usia:

Tahap BERMAIN (“la-ibuhum”/ajaklah mereka bermain), dari lahir sampai kira-kira 7 tahun.
Tahap PENANAMAN DISIPLIN (“addibuhum”/ajarilah mereka adab) dari kira-kira 7 tahun sampai 14 tahun.
Tahap KEMITRAAN (“roofiquhum”/jadikanlah mereka sebagai sahabat) kira-kira mulai 14 tahun ke atas.

Artinya masa remaja berada pada kisaran tahap kemitraan, dimana orangtua hendaklah menjadi sahabat buat mereka. Agar mereka merasa nyaman bertanya dan bercerita tentang apa saja. Sex edukasi yang benar dan dilakukan oleh orang yang tepat (dalam hal ini, sebaiknya dilakukan oleh orangtua) akan membantu para remaja menjalani masa “topan badai” ini, segitunya bangetkah?

Ya menurut Bapak Psikologi Remaja pada awal Abad-20 Stanley Hall, masa dimana para remaja mengalami banyak masalah dan tekanan, sehingga diistilahkan masa topan badai atau strom and stress.

Semoga artikel tentang kesehatan reproduksi remaja ini bisa bermanfaat

Kesehatan reproduksi remaja

Kesehatan reproduksi remaja Kesehatan reproduksi remaja4.55
Posted by Admin: sro.web.id 0 Responses
   

Leave a Reply to this Post

You must be logged in to post a comment.

Jun
24
 
 
 
SUKA? KLIK LIKE DISINI YA