Keluarga Harmonis Menciptakan Membangun Membentuk Keluarga Sakinah Mawadah Warohmah

 

Keluarga Harmonis Menciptakan Membangun Membentuk Keluarga Sakinah Mawadah Warohmah

  1. Kasih sayang, yaitu sikap kasih sayang mendalam yang diwujudkan secara wajar.
  2. Emosi
    yang terkendali, yaitu individu dapat mengatur perasaan-perasaannya
    terhadap keluarga dan terhadap pasangan. Tidak mudah berbuat hal yang
    menyakiti perasaan, misalnya marah, cemburu buta, dan ingin merubah
    pribadi pasangannya.
  3. Emosi terbuka-lapang, yaitu individu dapat
    menerima kritik dan saran dari pasangannya sehubungan dengan kelemahan
    dan perbuatannya, demi pengembangan diri dan puasan pasangan.
  4. Emosi
    terarah, yaitu individu dengan kendali emosinya sehingga tenang, dapat
    mengarahkan ketidakpuasan dan konflik-konflik yang konstruktif dan
    kreatif(Andi Mappiare,. Psikologi Orang Dewasa,.( Surabaya: Usaha Nasional,1983), hal 153)
  1. Rasa
    cinta dan kasih sayang. Tanpa keduanya rumah tangga takkan berjalan
    harmonis. Karena keduanya adalah power untuk menjalankan kehidupan rumah
    tangga.
  2. Adaptasi dalam segala jenis interaksi masing-masing,
    baik perbedaan ide, tujuan, kesukaan, kemauan, dan semua hal yang
    melatarbelakangi masalah. Hal itu harus didasarkan pada satu tujuan
    yaitu keharmonisan rumah tangga.
  3. Pemenuhan nafkah lahir batin
    dalam keluarga. Dengan nafkah maka harapan keluarga dan anak dapat
    terealisasi sehingga tercipta kesinambungan dalam rumah tangga(Muhammad M. Dlori, Dicinta Suami (Istri) Sampai Mati, (Jogjakarta: Katahati,2005), hal 16-23)
  • Persyaratan fisik
    biologis yang sehat-bugar. Hal ini penting karena; untuk menjalankan
    tugasnya keduanya memerlukan tubuh atau anggota badan yang berfungsi
    baik dan sehat. Seperti berkomunikasi, bekerja, kehidupan seksualitas,
    daya tarik, dan sebagainya. Jika mereka memiliki tubuh dan fisik yang
    sehat terutama otak maka keluarga akan terbantu dengan sisi kreatif dari
    otak. Tubuh merupakan dasar untuk hidup
  • Psikis-rohaniah
    yang utuh. Kondisi psikis-rohaniah yang utuh sangat diperlukan dalam
    menunjang kemampuan seseorang dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah
    dalam rumah tangga.dengan mental yang sehat akan mampu mengendalikan
    emosi yang kadang tergoncang karena berbagai macam alasan dan situasi.
    Taraf kepribadian dan rohani yang utuh dan teguh sangat diperlukan,
    karena dalam perjalanannya godaan dan cobaan datang secara silih
    berganti, baik dalam moral kesusilaan, keadilan, kejujuran, tanggung
    jawab sosial dan keagamaan.Mental yang sehat dapat menyebabkan
    seseorang mampu menghadapi kenyataan sebagaimana adanya dan akan
    berusaha meraih kebahagiaan hidup tanpa merugikan orang lain, ia akan
    mampu beradaptasi dengan efektif dan wajar. Bermacam-macam aspek
    kepribadian dan unsur akhlak budi pekertinya akan utuh dan teguh serta
    menjaga taraf keluhuran dan kehormatannya. Psikis-rohaniah yang utuh
    dapat mambuat kedua pasangan memelihara daya tarik yang membuat mereka
    betah dan bahagia dalam rumah tangganya.
  • Kondisi
    sosial dan ekonomi yang cukup memadai untuk memenuhi hidup rumah
    tangga. Hal ini dapat berupa semangat dan etos kerja yang baik dalam
    memenuhi nafkah, kreatifitas dan semangat untuk mengusahakannya,
    sehingga keluarga akan terpenuhi kebutuhannya(Hasan Basri, Keluarga Sakinah Tinjauan Psikologi dan Agama, (Yogyakarta; Pustaka pelajar, 2002), 32-37)
  • Saling mengerti antar suami isteri, yaitu;
    • (a)
      Mengerti latar belakang pribadinya; yaitu mengetahui secara mendalam
      sebab akibat kepribadian (baik sifat dan tingkah lakunya) pasangan,
    • (b)
      Mengerti diri sendiri; memahami diri sendiri masa lalu kita, kelebihan
      dan kekurangan kita, dan tidak menilai orang berdasarkan diri sendiri.
  • Saling
    menerima. Terimalah apa adanya pribadinya, tugas, jabatan dan
    sebagainya jika perlu diubah janganlah paksakan, namun doronglah dia
    agar terdorong merubahnya sendiri. Karena itu;

    • (a) Terimalah dia apa adanya karena menerima apa adanya dapat menghingkan ketegangan dalam keluarga.
    • (b) Terimalah hobi dan kesenangannya asalkan tidak bertentangan dengan norma dan tidak merusak keluarga.
    • (c) Terimalah keluarganya
  • Saling
    menghargai. Penghargaan sesungguhnya adalah sikap jiwa terhadap yang
    lain. Ia akan memantul dengan sendirinya pada semua aspek kehidupan,
    baik gerak wajah maupun perilaku. Perlu diketahui bahwa setiap orang
    perlu dihargai. Maka menghargai keluarga adalah hal yang sangat penting
    dan harus ditunjukkan dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.Adapun cara menghargai dalam keluarga adalah;

    • (a)
      Menghargai perkataan dan perasaannya. Yaitu; menghargai seseorang yang
      berbicara dengan sikap yang pantas hingga ia selesai, menghadapi setiap
      komunikasi dengan penuh perhatian positif dan kewajaran, mendengarkan
      keluhan mereka.
    • (b) Menghargai bakat dan keinginannya sepanjang tidak bertentangan dengan norma.
    • (c) Menghargai keluarganya.
  • Saling
    mempercayai. Rasa percaya antara suami isteri harus dibina dan
    dilestarikan hingga ke hal yang terkecil terutama yang berhubungan
    dengan akhlaq, maupun segala segi kehidupan. Diperlukan diskusi tetap
    dan terbuka agar tidak ada lagi masalah yang disembunyikan. Untuk
    menjamin rasa saling percaya hendaknya memperhatikan;

    • (a) Percaya akan pridinya. Hal ini ditunjukkan secara wajar dalam sikap ucapan, dan tindakan.
    • (b)
      Percaya akan kemampuannya, baik dalam mengatur perekonomian keluarga,
      mengendalikan rumah tangga, mendidik anak, maupun dalam hubungannya
      dengan orang luar dan masyarakat.
  • Saling
    mencintai. Syarat ini  merupakan tonggak utama dalam menjalankan
    kehidupan keluarga. Cinta bukanlah kejaiban yang kebetulan datang dan
    hilang namun ia adalah “usaha untuk…”. Adapun syarat untuk
    pempertalikan dengan cinta adalah;

    • (a) Lemah lembut dalam berbicara.
    • (b)Menunjukkan perhatian kepada pasangan, terhadap pribadinya maupun keluarganya.
    • (c) Bijakna dalam pergaulan.
    • (d) Menjauhi sikap egois
    • (e) Tidak mudah tersinggung.
    • (f)
      Menentramkan batin sendiri. Karena takkan bisa menentramkan batin
      seseorang apabila batinnya sendiri tidak tentram, orang disekitarnya pun
      tidak akan nyaman. Saling terbuka dan membicarakan hal dengan pasangan
      adalah kebutuhan yang dapat menentramkan masalah. Peran agama dan
      spiritual pun sangat menentukan.
      Dengannya kemuliyaan hati tercermin
      dalam tingkah laku yang lebih baik dan menarik. Oleh sebab itu orang
      yang tentram batinnya akan menyenangkan dan menarik bagi orang lain.
    •  (g) Tunjukkan rasa cinta. Hal ini dapat melalui tindakan, ucapan maupun sikap terhadap pasangan(Zakiah Dradjat, Ketenangan Dan Kebahagiaan Dalam Keluarga.)
  1. Menciptakan
    kehidupan agama atau spiritualitas dalam keluarga. Karena dalam agama
    terdapat nilai-nilai moral atau etika kehidupan. Landasan utama agama
    dalam kehidupan terutama rumah tangga adalah kasih sayang. Penelitian
    mengatakan keluarga yang tidak religius, komitmen agamanya rendah, atau
    yang tidak mempunyai komitmen agama sama sekali beresiko empat kali
    tidak berbahagia, dan berakhir dengan broken home, perceraian, tak ada
    kesetiaan, dan kecanduan NAZA.
  2. Terdapat waktu bersama keluarga.
    Sesibuk apapun keluarga tersebut hendaknya para anggota harus
    menyediakan waktu untuk keluarga atau suasana kebersamaan dengan
    unsur-unsur keluarga sebagai usaha pemeliharaan hubungan.
  3. Dalam
    interaksi segitiga, keluarga menciptakan hubungan yang baik antara
    anggotanya. Komunikasi yang baik dan dua arah, suasana demokratis dalam
    keluarga harus dijaga agar tidak terjadi kesenjangan diantara anggota
    keluarga.
  4. Saling harga-menghargai dalam interaksi ayah, ibu, dan
    anak. Hal ini dilakukan melalui ucapan, tindakan, dan sikap yang
    tertanam dalam anggota keluarga.
  5. Keluarga sebagai unit terkecil
    harus erat dan kuat, jangan longgar, dan jangan rapuh. Mereka bukan
    hanya dekat dimata namun juga harus dekat dihati. Hubungan silaturrahmi
    berdasarkan kasih sayang haruslah dibina dalam keluarga.
  6. Jika mengalami krisis dan benturan-benturan, maka prioritas utamanya adalah keutuhan keluarga.

Jika
aspek diatas telah terpenuhi dan berfungsi dengan baik berdasarkan pada
tuntunan nilai-nilai spiritual agama maka keharmonisan rumahtangga akan
mudah diraih(Hawari, Al-Quran: Ilmu Kedokteran Jiwa Dan Kesehatan Jiwa., hal 805-808)

Membentuk keluarga harmonisKeluarga Harmonis Menciptakan, Membangun, Keluarga Sakinah Mawadah Warohmah

Keluarga
harmonis dimulai dengan keluarga yang akrab. Diperlukan upaya dan cara
pandang yang lebih matang untuk menciptakannya, banyak hal yang dapat
mempengaruhi kualitas dari keharmonisan tadi. Namun yang lebih penting
adalah menjaga keintiman, caranya adalah:

  1. Toleransi.
    Toleransi disini adalah memahami bahwa orang-orang yang kita cintai
    mungkin mempunyai gambaran yang berbeda dalam fikiran mereka tentang
    cara menghadapi suatu peris tiwa. Jadi dalam keluarga tidak meributkan
    hal sepele, mencoba menyamakan persepsi dan bekerja sama.
  2. Waktu
    bersama-sama, menggali kreatifitas dan mengambil manfaatnya bagi
    keluarga. rencanakan waktu khusus, isi momen-momen istimewa, ubah acara
    rutin dengan melibatkan seluruh keluarga, nikmati bersama hobi anda, dan
    libatkan diri dengan melibatkan anak dalan kegiatan yang digemari.
  3. Jatuh-bangun
    (terus berusaha). Jangan menyerah terus mencoba pendekatan baru untuk
    menjalin hubungan yang lebih mendalam dengan anak, pasangan, dan
    sesuaikan dengan minat, usia, serta keadaan.
  4. Terjunlah kedunia (menunjukkan kasih sayang dalam tindakan).
  5. Kurangi menggurui, perbanyak mendengar. Berusahalah untuk saling menghormati sudut pandang dan impian satu sama lain.
  6. Sarana
    hidup sebagai penyimpanan keyakinan yang harus ditanamkan. Hal ini
    dilakukan dengan membuat kotak, buku, dan sebagainya untuk menyimpan
    gagasan, nilai, yang layak disimpan dalam kotak tersebut, namun
    sebelumnya harus melalui komunikasi dengan keluarga, serta cara
    penggunaannya diatur oleh keluarga.
  7. Cinta menyeluruh. Tunjukkan dan sering-seringlah menunjukkan cinta anda(Mimi
    Doe,. SQ Untuk Ibu: Cara-Cara Praktis dan Inspiratif Untuk Mewujudkan
    Ketentraman Ruhani. (Bandung: Penerbit Kaifa 2002), hal 65-66)
  • Berdamai
    dengan masa lalu, yaitu berusaha mengidentifikasi masa lalu yang
    mempengaruhi cara pandang kita dalam menjalani kehidupan keluarga.
    Selesaikan masalah yang teridentifikasi, dan temukan hal positif.
    Lakukan perubahan perilaku yang merupakan dampak dari masa lalu.
    Dengarkan dengan baik suara yang datang sebagai pesan masa lalu, dan
    hapus semua kenangan buruk. Kaji kembali pendekatan sebagai orang tua,
    dan jangan malu-malu untuk bercerita tentang masa lalu dengan keluarga
    untuk pelajaran bagi mereka.
  • Berdamailah
    dengan pasangan, yaitu mengidentifikasi hal-hal yang dapat mempengaruhi
    kualitas hubungan akibat perbedaan yang dimiliki. Galilah perbedaan itu
    dan komunikasikanlah sehingga mendapat solusi. Jagalah cara
    menyampaikan dan menerima kritik, dan mintalah bantuan ahli bila memang
    diperlukan.
  • Ciptakan
    komunikasi dua arah, yaitu cobalah untuk memahami perbedaan model
    komunikasi masing-masing, dan memperbaiki cara komunikasi yang
    destruktif. Mengembangkan cara komunikasi yang lebih efektif dalam
    keluarga. Nyatakan hal yang ingin disampaikan dengan efektif dan baik,
    dan ciptakan suasana dan pola komunikasi yang efektif bagi anggota
    keluarga.
  • Akrabilah
    lingkungan terdekat, yaitu semua yang berhubungan dengan kita seperti
    teman dekat, tetangga, kerabat, komunitas, sekolah anak, pemuka agama,
    lingkungan kerja, dan sebagainya. Banyak alasan untuk menerapkan
    keakraban dengan mereka. Selain sebagai teman berbagi, mungkin mereka
    dapat membantu menginspirasi, dan memberi dukungan untuk kita dalam
    mejalani kehidupan keluarga, begitu pula sebaliknya.
  • Arahkan
    perilaku anak, yaitu terapkan disiplin yang positif dengan cara
    berkomunikasi dengan anak tentang sasran dan tujuan bersama maupun
    tujuan pribadi. Setelah terjadi komunikasi dan pengertian mengenai
    harapan atau sasaran tadi maka orang tua hendaknya memberikan dukungan
    dan pujian pada perilaku yang positif atau mendukung sasaran tadi,
    walaupun tidak sesempurna pada awalnya, tekankan saja pujian positif
    ini.Memberikan teguran pada perilaku yang telah keluar dari
    sasaran atau harapan yang disepakati sebelumnya, teguran ini hendaknya
    mengena pada perilaku khusus dan berjalan singkat, hindari hukuman
    fisik. Libatkan semua anggota keluarga sebagai “tim” dalam pembentukan
    dan penjagaannya. Adakan komukasi dan diskusi dengan tim secara efektif.
    Dan mintalah pendapat ahli bila diperlukan, adakan refleksi diri, dan
    instropeksi untuk mengevaluasi, serta mendapatkan cara yang tepat
    memperlakukan anak.
  • Memelihara
    hubungan persaudaraan, yakni menerima perbedaan diantara anggota
    keluarga dan menganggap persaingan yang terjadi akibat perbedaan tadi
    adalah sesuatu yang normal. Memanfaatkan area persaingan tadi menjadi
    area tim yang saling membantu dan meneguhkan satu sama lain
    Membanding-bandingkan anak bukanlah hal yang tepat karena akan
    menimbulkan jurang permusuhan. Adakan waktu khusus untuk keluarga, baik
    melakukan hal barsama, minat bersama, dan sebagainya, adakan
    keseimbangan baik hubungan, komunikasi, maupun penanganan konflik.Sediakan
    waktu untuk masing-masing, dan dengarkan mereka. hindari pertengkaran.
    buat persaingan yang positif dengan menekankan potensi masing-masing,
    hargai usaha bukan hasil, jangan berat sebelah. Persaingan positif
    adalah berlomba untuk melakukan hal terbaik dan maksimal dari mereka.
    Jadi bukan untuk membanding-bandingkan kakak adik, kompetensi kakak adik
    untuk meraih poin dari ayah. Namun lebih menekankan usaha maksimal
    untuk menjadi individu yang mandiri, menjadi diri sendiri, berbuat hal
    positif dan yang terbaik. Misalnya untuk hari kebersihan rumah, bila
    adik membersihkan halaman depan dengan ayah, maka kakak membersihkan
    rumah dengan ibu.
  • Menagtasi
    pengaruh sebaya. Orang tua dituntut bekerja sebagai tim untuk
    mengontrol perilaku anak. Tanamkan dan bimbing ia dengan kasih sayang,
    nilai, dan dan sikap positif. Bimbing ia untuk menjalin hubungan
    positif, adakan komunikasi yang hangat untuk membahas hubungan mereka
    dengan orang lain, membahas hal yang berpengaruh buruk untuk mereka
    dengan kejelasan dan bagai mana hal yang tepat mengatasinya. Jangan
    biarkan anda dianggap kuno, biarkan anda menyesuaikan diri tanpa
    kehilangan kontrol positif, sehingga dapat menjadi contoh positif oleh
    anak bagaimana menghadapi perubahan mode yang tepat.
  • Luangkan
    waktu untuk spiritualitas dan kegembiraan. Meluangkan waktu untuk
    spiritualitas dan kegembiraan akan menghilangkan kehampaan dan
    kekosongan yang mengganggu, dan juga akan membimbing kita dalam
    menghadapi persoalan dan menghadapi masa-masa yang sulit. Penanaman
    spiritulaitas untuk anak dapat membuat anak menjadi manusia yang
    memiliki jiwa dan emosi yang sehat.

Caranya
adalah dengan proaktif dan reaktif. Proaktif berarti dengan melibatkan
anak dalam kegiatan kegamaan, formal seperti ibadah di masid dan
sebagainya. Reaktif yaitu membahas berbagai tantangan hidup dan
menyandarkan diri pada kepercayaan, doa-doa, serta mengajari anak untuk
menggantungkan diri pada kekuatan spiritual dalam mengatasi permasalahan
sehari-hari. Kita dapat menerapkan dalam keseharian keluarga, seperti
dongeng sebelum tidur, saling mendoakan, saling memaafkan, kegembiraan
bersama, dan menyediakan waktu untuk diri sendiri dan keluarga.

Meluangkan
waktu senggang atau libur untuk kegembiraan dan spiritualitas dapat
membantu menyegarkan kembali keluarga, sikap tenang dan rekresi batin
dapat dilakukan kapanpun. Keterlibatan dengan alam dan kehidupan kerena
melakukan proyek bersama yang mengandung nilai spiritual dan kegembiraan
akan berdampak pada kekompakan dan meningkatkan perasaan gembira lahir
batin, karena merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Apabila hal ini telah menjadi bagian dari kelurga maka setiap aktifitas
keluarga akan dilakukan dengan tenang dan optimal(Darlene
Powell Derek S. Hubson, Menuju Keluarga Kompak: 8 Prinsip Praktis
Menjadi Keluarga yang Sukses. (Bandung: Kaifa. 2002))

Dalam penulisan artikel Keluarga Harmonis Menciptakan, Membangun, Membentuk Keluarga Sakinah Mawadah Warohmah  ini referensinya saya tulis dalam tanda kurung semoga bermanfaat untuk semuanya dan menjaga keharmonisa keluarga kita baik dunia maupun akhirat.

 Keluarga Harmonis Menciptakan Membangun Membentuk Keluarga Sakinah Mawadah Warohmah

Keluarga Harmonis Menciptakan Membangun Membentuk Keluarga Sakinah Mawadah Warohmah

Incoming search terms:

  • arti sakinah mawadah wa rohmah
  • perbedaan pendekatan komunikasi keluarga pada keluarga harmonis dan broken home
  • materi penyuluhan keluarga harmonis
  • makalah tulis tentang keluarga harmonis
  • makalah tentang kehidupan harmonis
Posted by Admin: sro.web.id 0 Responses
   
 

Leave a Reply to this Post

You must be logged in to post a comment.

Feb
19
 
 
 
SUKA? KLIK LIKE DISINI YA