Cara Menentukan Nilai Multiplier

 

Cara Menentukan Nilai Multiplier – Proses Multplier effect adalah proses yang menunjukkan sejauh mana pendapatan nasional akan berubah efek dari perubahan dalam pengeluaran agregat. Multiplier bertujuan untuk menerangkan pengaruh dari kenaikan atau kemerosotan dalam pengeluaran agregat ke atas tingkat keseimbangan dan terutama ke atas tingkat pendapatan nasional.

Pada umumnya yang biasa kita ketahui mengenai Pendapatan Nasional dan yang juga tidak asing bagi kita adalah GNP (Gross National Product), GDP (Gross Domestic Product), dan NNP (Net National Product). Seperti yang telah kita ketahui, bahwa Pendapatan nasional dipengaruhi oleh pendapatan dan pengeluaran agregat suatu negara. Pada paper ini kami membahas tentang “Multiplier Effect” di mana cakupannya sangat luas terhadap hal-hal yang berhubungan dengan ekonomi dan politik, serta hubungan antara suatu Negara. Dimana permintaan agregat dipengruhi perubahan pengeluaran investasi.

Dalam menghitung pendapatan nasional dihitung dengan dari GDP (Gross Domestic Product) dikurangi NNP (Net Natioanal Product), pajak tak langsung dan depresiasi. Intinya pendapatan nasional dingaruhi oleh permintaan agregat dan pengeluaran agregat. Dalam perhitungannya melibatkan kecondongan mengkonsumsi MPC (Marginal Propensity to Consume) dan menabung MPS (Marginal Propensity to Saving). Secara tidak langsung investasi juga sebagai pengeluaran agregat mempengaruhi besarnya pendapatan nasional. Dengan menggunakan multiplier effect dapat diketahui bagaimana pengaruh dari konsumsi, investasi dan pengeluaran pemerintah terhadap perubahan pendapatan nasional.

Permintaan Agregat atau pengeluaran agregat

Kita anggap saja bahwa perekonomian kita adalah perekonomian tertutup (yaitu tidak melakukan transaksi dengan luar negeri) dan mempunyai sebuah pemerintahan yang ikut “berbelanja” di pasar barang. Permintaa agregat (aggregate demand) atau (dalam perekonomian tertutup) sama saja dengan perngeluaran agregat (aggregate expenditure) dari masyarakat secara keseluruhan, yang kita sebut Z, terdiri dari tiga unsure : (a) permintaan efektif dari rumah tangga akan barang-barang konsumsi (kita sebut C), (b) permintaan efektif dari sektor produsen untuk investasi (kita sebut I), dan (c) permintaan efektif dari pemerintah (G). Jadi :

Z = C + I + G

Kita lihat sekarang faktor-faktor apa yang menentukan masing-masing unsur permintaan efektif ini.

Kita mulai dengan unsur C, kemudian unsur I, dan akhirnya unsur G. Dengan mempelajari faktor-faktor yang menentukan setiap unsur permintaan efektif, kita dengan sendirinya bisa mengetahui faktor-faktor apa yang menentukan permintaan agregat (pengeluaran agregat), yaitu Z.

Yang menentukan C: propensity to consume dan propensity to save

Disebutkan bahwa setiap proses produksi mempunyai akibat ganda. Di satu pihak, proses tersebut menghasilkan barang/jasa yang siap untuk dipasarkan (yaitu, menghasilkan supply atau penawaran di pasar barang). Di lain pihak proses tersebut sekaligus menghasilkan imbalan-imbalan kepada faktor-faktor produksi yang digunakan dalam proses tersebut (yaitu, upah/gaji untuk tenaga kerja, bunga untuk pemilik modal, sewa untuk tanah dan sumber-sumber alam, dan keuntungan untuk para pengusaha). Dengan kata lain, proses produksi menghasilkan pendapatan dalam masyarakat (yaitu bagi sektor rumah tangga). Selanjutnya pendapatan menimbulkan permintaan efektif dalam pasar barang, yaitu permintaan efektif untuk barang-barang konsumsi oleh sektor rumah tangga C. Menurut Keynes (dan ini berlawanan dengan Say), tidak semua dari penghasilan tersebut akan dibelanjakan untuk barang dan jasa. Misalnya hanya 80%-nya atau 90%-nya saja, sedangkan sisanya (10%-20%)-nya ditabung.

Keynes berpendapat bahwa setiap masyarakat mempunyai kebiasaan tertentu mengenai berapa dari pendapatan rumah tangga yang dibelanjakan untuk barang dan jasa (C) dan berapa yang ditabung (S). Biasanya untuk negara-negara yang tingkat penghasilannya tinggi, persentase dari penghasilan yang ditabung makin tinggi, (misalnya 30%-40%) atau dengan lain kata persentase dari penghasilannya yang dibelanjakan relatif rendah, yaitu 60%-70%. Sebaliknya persentase yang ditabung biasanya kecil bagi negara-begara yang tingkat penghasilannya belum tinggi (negara-negara sedang berkembang), mungkin sekitar 5%-10% atau, persentase penghasilan yang dibelanjakan adalah tinggi, sekitar 90%-95%. Ini tentunya sesuai dengan pengalaman yang bisa kita lihat sehari-hari, bahwa semakin besar penghasilan seseorang, semakin besar bagian dari penghasilan yang bisa disisihkan untuk ditabung tanpa ia harus menderita kekurangan makanan/pakaian dan sebagainya. Persentase dari penghasilan yang ditabung disuatu masyarakat menunjukkan perilaku sektor rumah tangga secara keseluruhan dalam mengalokasikan penghasilan mereka. Persentase ini disebut dengan istilah propensity to save (kecenderungan untuk menabung) dari masyarakat tersebut. Sedang persentase dari penghasilan yang dibelanjakan disebut propensity to consume (kecenderungan untuk berkonsumsi). Kalau s, adalah propensity to save, dan c adalah propensity to consume, maka

S = sY

C = cY

C + S = cY + sY = (c + s) Y = Y

C + s = 1

Khusus untuk bentuk funsi konsumsi jangka pendek, C = a + cY, perlu dibedakan dua macam propensity to consume yaitu :

  1. marginal propensity to consume (MCP), yang didefenisikan sebagai perubahan pengeluaran konsumsi yang disebabkan oleh perubahan tingkat pendapatan, atau rC atau c, dan

rY

  1. average propensity to consume (APC), yang didefenisikan sebagai proporsi dari penghasilan yang dibelanjakan untuk konsumsi, atau C = a + cY = a + c

Y Y Y

Bagi fungsi konsumsi jangka panjang, tentu saja MPC =APC = c

Ada dua hal yang perlu digarisbawahi disini. Yang pertama adalah MPC seharusnya mempunyai nilai antara 0 dan 1 (jadi tidak bisa lebih besar dari satu atau negatif, karena tidak logis). Yang kedua adalah bahwa fungsi konsumsi menunjukkan perilaku makro dari semua konsumen (sektor rumah tangga) dalam suatu negara/daerah dan bukannya perilaku konsumen individual seperti dalam fungsi permintaan mikro. C menunjukkan pengeluaran konsumsi total dinyatakan dalam rupiah dari masyarakat dan Y adalah pendapatan total dari masyarakat (GDP, GNP, Pendapatan Nasional atau Disposable Income, tergantung mana yang dianggap lebih cocok untuk masing-masing negara).

Yang menentukan I : tingkat bunga dan marginal efficiency of capital

Investasi (I) disini adalah pengeluaran (dihitung dalam jutaan rupiah) oleh sektor produsen (swasta) untuk pembelian barang-barang/jasa untuk tujuan investasi, yaitu untuk penambahan stok di gudang atau untuk peluasan pabrik. Apa yang menentukan besar kecilnya pengeluaran untuk investasi? Apakah kita bisa mengambil analogi dari pengeluaran untuk konsumsi (C), dan mengatakan bahwa sektor produsen pun berperilaku serupa dengan sektor rumah tangga, yaitu membelanjakan sebagian dari ( atau seluruh) penghasilan mereka, misalnya yang berupa ”keuntungan perusahaan”?

Jawab untuk pertanyaan ini adalah tidak atau tidak seluruhnya benar. Sektor produsen (atau sektor perusahaan) berbeda dengan sektor rumah tangga dalam dua hal yang menyangkut :a) macam atau tujuan pengeluaran dan b) kemungkinan-kemungkinan yang terbuka untuk pembiayaan pengeluaran tersebut.

Mengenai macam atau tujuan pengeluaran, sektor produksi (sektor perusahaan) membeli barang bukan untuk tujuan konsumsi (seperti sektor rumah tangga), tetapi untuk tujuan investasi. Ini berarti bahwa barang-barang tersebut dibeli dengan harapan untuk menghasilkan keuntungan kemudian hari. Ini selanjutnya berarti bahwa pertimbangan-pertimbangan yang diambil oleh perusahaan dalam memutuskan apakah membeli atau tidak membeli barang-barang/jasa-jasa tersebut adalah harapan dari pengusaha akan kemungkinan keuntungan yang bisa diperoleh (dengan menjual kemudian barang-barang tersebut, atau menggunakan untuk proses produksi). Harapan keuntungan inilah yang merupakan faktor utama dalam keputusan tersebut. Ini berbeda dengan rumah tangga yang membeli sesuatu barang atas dasar kebutuhannya.

Mengenai kemungkinan pembiayaan untuk pembelian barang-barang tersebut, perusahaan mempunyai kemungkinan yang lebih luas. Khususnya, perusahaan tidak perlu harus mendasarkan rencana pembelian barangnya ( untuk tujuan investasi) atas dasar uang atau ”penghasilan” yang sekarang ada dalam kas perusahaan. Perusahaan mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk memperoleh dana dari lembaga-lembaga kuangan misalnya berupa pinjaman untuk investasi. Jadi asal saja perusahaan tersebut bisa menunjukkan bahwa ”proyek” nya, menurut perhitungan yang teliti, akan bisa menghasilkan keuntungan yang cukup besar dimasa mendatang, maka bank-bank atau lembaga-lembaga keuangan lain mungkin sekali akan bersedia membiayai seluruh atau setidak-tidaknya sebagian dari biaya yang di perlukan untuk ”proyek” investasi tersebut. Jadi keputusan pembelian barang untuk investasi tidaklah banyak tergantung pada dana yang sekarang dimiliki perusahaan. Tentunya hal mengenai mudah tidaknya memperoleh dana tergantung juga antara lain pada faktor-faktor seperti besar kecilnya perusahaan, pengalaman dan bonafiditas perusahaan, dan mungkin juga pada koneksi perusahaan. Perusahaan yang kecil dan belum ternama bonafisitasnya dan, apa lagi yang tidak mempunyai koneksi perusahaan, akan terpaksa mengandalkan pada dana sendiri yang ada dalam kas perusahaan atau dalam tabungan pemiliknya; dan akan berperilaku tidak jauh berbeda dengan rumah tangga, yaitu membuat rencana belanja barang/jasa untuk investasi atas dasar ”penghasilan”nya yang ada. Namun secara umum bisa dikatakan bahwa, dibanding dengan rumah tangga (a) perusahaan mempunyai kesempatan lebih besar untuk menggunakan dana lebih besar daripada dana yang dimilikinya untuk rencana belanja barangnya, dan (b) faktor harapan keuntungan sangat menentukan. Jadi besar kecilnya I tidak terlalu tergantung pada Y seperti halnya C.

Kedua aspek yang mempengaruhi keputusan perusahaan untuk menentukan besarnya I tersebut perlu kita bahas lebih lanjut karena keduanya berhubungan erat dengan adanya pasar yang kedua yaitu pasar uang.

a) Kemungkinan menggunakan dana orang lain.

Perusahaan A, atau pemiliknya bisa meminjam uang misalnya dari kenalannya. Perusahaan B memperoleh kredit investasi dari bank rakyat indonesia. Perusahaan C mengeluarkan saham-saham baru yang di jual kepada masyarakat umum. Ketiga perusahaan ini memperoleh dana untuk investasinya dari pasar uang yang kita maksud dalam teori makro. Perusahaan A memperoleh dana dari bagian pasar uang yang di sebut pasar uang tidak resmi (informal money market). Perusahaan B memperoleh bagian dari pasar uang yang di sebut sektor perbankan (Banking sektor). Perusahaan C memperoleh dananya dari bagian pasar uang yang disebut pasar surat berharga (disebut pula dengan bursa efek atau pasar modal).

Baik pasar uang yang ”resmi” mampun yang ”tidak resmi” mempunyai fungsi ekonomis yang sama, yaitu menghubungkan antara mereka yang membututhkan dana (perusahaan-perusahaan) dan mereka yang ”kelebihan” dana (publik atau sektor rumah tangga dengan tabungannya). Bank dan bursa efek hanya merupakan lembaga-lembaga untuk mempermudah pertemuan antara kedua pihak ini. Tetapi, seperti contoh perusahaan A, transaksi pinjam meminjam dana ini tidak perlu lewat lembaga lembaga modern seperti itu. Dan bagi negara-negara sedang berkembang, misalnya indonesia sektor pasar uang tidak resmi cukup penting perananya, terutama dalam menghubungkan perusahaan kecil dengan penabung kecil tanpa harus melalui syarat administrasi yang begitu repot.

Seperti dalam pasar-pasar lain,dalam pasar uang ini pun terdapatah penawaran dan permintaan akan dana, dan dalam pasar ini di tentukan volume dana yang di pinjamkan dan tingkat bunga ” harta” dari dana tersebut.

Dari segi lain, tingkat bunga juga merupakan biaya yang baru yang harus di bayar oleh setiap pengunaan dana untuk tujuan investasi, dll. Pengertian tingkat bunga sebagai biaya ini, berlaku juga bagi mereka yang memiliki dana sendiri karena prinsipnya perusahaan yang memiliki dana sendiri bisa meminjam kan dananya pada uang pasar dan memperoleh penghasilan bunga sebesar tingkat bunga yang berlaku. Jadi apakah dana milik sendiri atau bukan, tingkat bunga yang berlaku masih bisa tetap dianggap sebagai biaya penggunaan dana.

b) Faktor keuntungan yang di harapkan

Keuntungan yang di harapkan biasanya dinyatakan dalam dua dimensi :

1. Dimensi yang menunjukkan berapa besar keuntungan yang akan diperoleh untuk setiap rupiah yang ditanamkan, dan

2. Dimensi waktu yang menunjukkan berapa lama aliran keuntungan ini berlangsung.

Besarnya keuntungan bisa dinyatakan dalam ”keuntungan kotor” dalam persentase per tahun (atau satuan waktu lainnya). Misalnya keuntungan kotor yang diharapkan adalah 50%, ini berarti bahwa setiap tahunnya untuk setiap rupiah yang ditanam bisa menghasilkan ½ rupiah keuntungan (sebelum bungan dibayar). Dimensi waktu menunjukkan berapa lama aliran keuntungan 50% ini berlangsung, atau berapa lama umur ekonomis dari investasi tersebut, misalnya 10thn.

Sebagai contoh : kita membeli sebuah truk seharga Rp 1 juta yang bisa menghasilkan keuntungan kotor (setelah depresiasi diperhitungkan) Rp 500 ribu setiap tahunnya (atau 50% per tahun) sampai 10 tahun. Pada akhir tahun kesepuluh uang yang kita tanamkan sudah kembali (dari dana penyusutan) dan truk kita secara ekonomis ”habis”. Tetapi selama 10 tahun tersebut kita menerima Rp ½ juta setiap tahunnya. Perlu dicatat bahwa penghasilan sebesar Rp ½ juta tersebut pada waktu si pengusaha memutuskan melakukan pembelian truk hanyalah merupakan hasil-hasil perhitungan di atas kertas atau keuntungan yang diharapkan. Dalam kenyataannya nanti, mungkin kalkulasi pengusaha tersebut meleset, misalnya karena truk tersebut ternyata tidak bisa memperoleh muatan secara penuh seperti yang diharapkan semula, atau ternyata ongkos eksploitasinya lebih tinggi/rendah daripada kalkulasi semula. Dengan demikian, kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Tetapi yang perlu ditekankan disini adalah bahwa pengusaha tersebut harus membuat tafsiran sebaik mungkin, atas dasar pengalaman dan pengetahuannya sendiri atau orang lain (konsultan), mengenai berapa besar keuntungan yang diharapkan, dan kemudian menentukan apakah investasi (pembelian truk) tersebut akan dilaksanan atau tidak.

Dalam teori makro Keynes, keputusan apakah suatu investasi akan dilaksanakan atau tidak, tergantung kepada perbandingan antara besarnya keuntungan yang diharapkan (yang dinyatakan dalam persentase per satuan waktu) di satu pihak dan biaya penggunaan dana atau tingkat bunga di lain pihak. Kalau seandainya tingkat bunga yang berlaku di pasar uang adalah 2 persen setiap bulan (atau 24% setahunnya), maka investasi pembelian truk tersebut masih menguntungkan, karena keuntungan kotor yang diharapkan adalah 50%, jadi melebihi ongkos penggunaan dana. Kita katakan bahwa keuntungan bersih yang diharapkan adalah 50%-24% = 26% per tahun untuk 10 tahun. Jadi kalau pengusaha tersebut ”rasional” tentulah investasi tersebut akan dilaksanakan olehnya. Tetapi seandainya tingkat bunga yang berlaku adalah 5% sebulan, ini berarti bahwa biaya penggunaan dana adalah sebesar 60% setahun. Dan investasi tersebut tidaklah menguntungkan, karena biaya penggunaan dana melebihi keuntungan yang diharapkan. Dalam hal ini kerugian netto yang diharapkan adalah sebesar 10% setahunnya untuk 10 tahun. Si pengusaha harus mencari investasi lain yang lebih menguntungkan.

Perhitungan semacam ini berlaku bagi mereka yang meminjam maupun yang memiliki dana sendiri. Sebabnya adalah bila misalnya tingkat bunga adalah 5% per bulan, maka bagi pengusaha yang memiliki dana sendiri akan lebih beruntung untuk meminjamkan dananya di pasar uang dan memperoleh penghasilan bunga sebesar 5% sebulan daripada menggunakannya untuk membeli truk tersebut dan menanggung kerugian sebesar 10% setahun selama 10 tahun. Dalam teori Keynes, tingkat keuntungan yang diharapkan ini disebut dengan istilah Marginal Efficiency of Capital (MEC).

Secara ringkas :

Bila keuntungan yang diharapkan (MEC) adalah lebih besar daripada tingkat bunga, maka investasi dilaksanakan.

Bila MEC lebih kecil daripada tingkat bunga, maka investasi tidak dilaksanakan.

Bila MEC = tingkat bunga, maka investasi boleh dilaksanakan boleh tidak bagi mereka yang memiliki dana.

Dari uraian diatas diketahui bahwa berapa tingkat pengeluaran investasi yang diinginkan oleh para investor ditentukan oleh dua hal, yaitu tingkat bunga yang berlaku dan Marginal Efficiency of Capital. Perilaku makro dari para investor ini biasanya diringkas dalam bentuk satu fungsi yang disebut fungsi Marginal Efficiency of Capital atau fungsi investasi. Fungsi MEC atau fungsi investasi menunjukkan hubungan antara tingkat bunga yang berlaku dengan tingkat pengeluaran investasi yang diinginkan oleh para investor.

Cara menurunkan fungsi investasi tersebut adalah sebagai berikut:

Misalnya, untuk mudahnya, pada suatu waktu tersedia di dalam masyarakat 5 proyek investasi yang mungkin untuk di laksanakan oleh para investor, masing-masing dengan MEC sebagai berikut:

Proyek Nilai Investasi MEC (%) *)

( Rp Juta )

A 100 50

B 200 40

C 50 35

D 150 20

E 75 15

*) Dinyatakan dalam tingkat keuntungan tahunan.

Sekarang kita bisa menanyakan hal sebagai berikut. Kalau seandainya tingkat bunga yang berlaku adalah 4% per bulan (atau 48% per tahun), berapakah tingkat pengeluaran investasi yang diinginkan oleh para investor? Jawabnya adalah Rp 100juta, karena pada tingkat bunga setinggi ini hanya proyek A saja yang menguntungkan tngkat bunga setinggi ini hanya proyek A saja yang menguntungkan untuk dilaksanakan. Seandainya sekarang tingkat bunga yang berlaku bukan 4%/bulan, tetapi 3%/bulan, berapakah tingkat pengeluaran investasi yang diinginkan? Jawabnya adalah 300juta, karena pada tingkat bunga ini (36% pertahun) ada dua proyek yang menguntungkan untuk dilaksananakan, yaitu proyek A (Rp 100 juta) dan proyek B (Rp 200 juta). Demikian seterusnya, kita bisa mengemukakan pertanyaan yang serupa untuk tingkat bunga 2%/bulan, 1%/bulan. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan seperti itu bisa ditabulasikan sebagai berikut:

Tingkat Bunga yang Berlaku Nilai investasi Total yang diinginkan

( % per bulan) ( Rp juta)

5 0

4 100

3 300

2 350

1 575

Tabel ini bisa digambarkan dalam bentuk kurva yang menghubungkan antara tingkat bunga yang berlaku dengan pengeluaran investasi yang diinginkan oleh para investor. Dan kurva ini tidak lain adalah kurva fungsi investasi ( atau fungsi MEC ).

Tiga hal yang perlu digaris bawahi mengenai fungsi investasi. Pertama, fungsi tersebut mempunyai slope yang negatif, artinya semakin rendah tingkat bunga semakin besar tingkat pengeluaran investasi yang diinginkan (atau direncanakan untuk dilaksanakan). Kedua, dalam kenyataan fungsi semacam itu sulit untuk di peroleh sebab posisinya sangat labil (mudah berubah dalam jangka waktu yang singkat). Kelabilan fungsi investasi ini akan segera bisa dipahami bila kita ingat bahwa posisinya sangat tergantung pada nilai-nilai MEC dari proyek-proyek yang ada dan bahwa MEC adalah keuntungan yang diharapkan oleh investor. Dan oleh karena didasarkan atas harapan masa depan atau expectations (jadi atasa dasar perhitungan yang subyektif), maka MEC sesuatu proyek bisa saja berubah dari hari ke hari dan peka terhadap perubahan kondisi sosio-ekonomis-politis negara. Misalnya, adanya gejolak politik di suatu daerah, desas-desus akan adanya (misalnya) devaluasi atau pembatasan impor, akan langsung mengubah penilaian subyektif investor terhadap sesuatu proyek. Karena begitu banyaknya faktor yang bisa mempengaruhi MEC, maka posisi fungsi investasi pun akan sangat mudah berubah. Kelabilan fungsi investasi ini merupakan penjelasan teoritis dari Keynes mengenai fakta yang disebutkan terdahulu, yaitu bahwa dalam kenyataan pengeluaran investasi (I) menunjukkan gejolak naik turun yang sulit diduga dari waktu ke waktu. Kelabilan ini adalah satu ciri yang membedakan dengan unsur-unsur permintaan agregat yang lain (C,G).

Hal yang ketiga yang perlu ditekankan adalah hubungan antara teori investasi Keynes tersebut ditekankan dengan kenyataan, khususnya mengenai masalah tersedianya dana investasi. Teori Keynes didasarkan atas anggapan bahwa pada tingkat bunga yang berlaku setiap investor bisa memperoleh dana berapapun yang ia perlukan untuk membiayai proyek-proyek yang ia anggap menguntungkan untuk dilaksanakan. Yang membatasi jumlah jumlah ingin ia investasikan hanyalah penilaiannya mengenai MEC proyek-proyek yang terbuka baginya. Dalam kenyataan seringkali dijumpai keadaan yang sebaliknya, yaitu banyaknya proyek yang menguntungkan (MEC tinggi) tetapi sulit untuk memperoleh dana untuk membiayai semuanya. Kesulitan memperoleh kredit dari bank, misalnya, mengakibatkan tingkat investasi yang direalisasikan lebih kecil kecil dari tingkat investasi yang diingikan. Khususnya dalam masa-masa ”uang ketat”, misalnya karena pembatasan kredit bank dan jumlah uang yang beredar yang ditujukan untuk mengendalikan inflasi, jumlah dana yang tersedia(dan bukan MEC) yang menentukan besarnya I. Kasus lain adalah kasus ”tengah-tengah”, di mana biaya dana (atau tingkat bunga) makin menaik dengan makin banyaknya jumlah dana yang diminta.

 Cara Menentukan Nilai Multiplier

Di Tulis Oleh: Yopi Ferdiawan [Blog]

Materi Lainnya [Download]

Cara Menentukan Nilai Multiplier

 Cara Menentukan Nilai Multiplier52
Posted by Admin: sro.web.id 0 Responses
   

Leave a Reply to this Post

You must be logged in to post a comment.

Apr
23
 
 
 
SUKA? KLIK LIKE DISINI YA